Tuesday, July 26, 2011

KEBAIKAN DIBULAN PUASA....TERUSKAN DIBULAN2 LAIN...

 

IA DATANG LAGI....BUAT SEBAIK MUNGKIN...KERANA BELUM TENTU TAHUN HADAPAN BOLEH DAPAT

RINGKASAN FIKIH BAB PUASA

1. Definisi Puasa
Puasa berarti menahan, menurut syari’at puasa berarti menahan diri secara khusus dan dalam waktu tertentu serta dengan syarat-syarat tertentu pula. Menahan diri dari makan, minum, berhubungan badan serta menahan syahwat dari terbit fajar sampai terbenam matahari.

2. Kewajiban Puasa Ramadhan
Menurut Al-Qur’an, Hadits dan Ijma, puasa merupakan ibadah yang diwajibkan bagi muslimah yang berakal sehat dan telah baligh.

Qur’an Albaqarah 183 yang artinya : Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan atas orang –orang sebelum kalian.

Hadits dari Thalbah bin Ubaidillah menceritakan: Ada seorang badui datang kepada Rasulullah dengan rambut yang kusut seraya bertanya: Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku shalat apa saja yang diwajibkan oleh Allah? Rasulullah menjawab : Hanya shalat lima waktu, kecuali jika kamu hendak menambahkannya dengan shalat sunnat. Orang itu bertanya kembali, beritahukan pula kepadaku puasa apa yang diwajibkan oleh Allah? Rasulullah menjawab, Hanya puasa Ramadhan, kecuali jika kamu hendak berpuasa sunnat.Orang tersebut bertanya lagi, Beritahukan kepadaku zakat apa yang harus aku bayarkan? Maka Rasulullah pun menerangkan kepadanya tentang syari’at islam. Akhirnya orang badui tersebut berkata, Demi Allah yang telah mengutusmu dengan kebenaran, sedikitpun aku tidak akan menambah ataupun mengurangi kewajiban yang telah difardhukan oleh Allah atas diriku. Rasulullah pun berkata, Beruntunglah jika ia benar atau akan dimasukkan kedalam surga jika benar ( HR. Muttafaqun Alaih).

Menurut Ijma kaum muslimin telah sepakat mewajibkan puasa pada bulan Ramadhan.

3. Beberapa Keutamaan Puasa
a. Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda : Puasa itu perisai. Apabila salah seorang dari kalian berpuasa, hendaklah dia tidak berkata keji dan membodohi diri. Jika ada seseorang memerangi atau mengumpatnya, maka hendaklah ia mengatakan: Sesungguhnya aku sedang berpuasa, dengan zat yang jiwaku berada ditanganNya, sesungguhnya bau mulut yang keluar dari orang yang berpuasa itu lebih harum disisi Allah daripada bau kasturi.Orang yang puasa itu meninggalkan makanan dan minumannya untuk Allah. Maka puasa itu untuk Allah dan Allah yang akan memberikan pahala karenanya, kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipatnya (HR.Bukhari).
b. Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda: Apabila datang bulan Ramadhan
maka dibukalah pintu-pintu surga dan ditutup pintu-pintu neraka serta semua setan dibelenggu (HR.Muslim).
Al-Qadhi mengatakan : Dibukalah pintu surga maksudnya agar hambaNya senantiasa berbuat ta’at pada bulan Ramadhan yang mana kesempatan itu tidak terdapat pada bulan-bulan lainya seperti, syalat taraweh, dan amal kebaikan lainnya yang semua itu merupakan kunci untuk dapat masuk surga. Sedangkan diutupnya pintu neraka dan dibelenggunya setan berarti supaya manusia menghindari berbagai macam pelanggaran
c. Dari Abu Umamah, Rasulullah bersabda : Aku pernah mendatangi Rasulullah seraya berkata: Perintahkankanlah kepadaku suatu amalan yang dapat memasukkan aku kesurga. Beliau menjawab, hendaklah kamu berpuasa, karena puasa itu merupakan amalan yang tidk ada tandingannya. Kemudian aku mendatangi Beliau untuk kedua kalinya dan beliau berkata dengan nasihat yang sama.(HR. Ahmad, Nasa’i dan Al Hakim).
d. Dari Sahal bin Sa’ad, Rasulullah bersabda: Sesungguhnya surga itu mempunyai satu pintu Babu ArRayyan, pada hari kiamat nanti pintu itu akan bertanya, dimana orang-orang yang berpuasa ? Apabila yang terakhir dari mereka telah masuk, maka pintu itupun akan tertutup (HR. Muttafaqun Alaih).
e. Dari Abu Sa’id Al-khudri, Rasulullah bersabda: Tidaklah seorang hamba berpuasa pada suatu hari dijalan Allah, melainkan dengan hari itu Allah akan menjauhkan api neraka dari wajahnya selama tujuh puluh musim ( HR. Jama’ah kecuali Abu Dawud).
f. Dari Abdullah bin Amr bin Al Ash, Rasulullah bersabda: Berpuasa dan membaca alQur’an akan memberikan safa’at kepada seseorang hamba pada hari kiamat kelak.Amalan puasanya akan berkata Ya Allah, aku telah melarangnya dari makanan, minum dan nafsu syahwat pada siang hari, sehingga ia telah menitipkan safa’at kepadaku. Amalan membaca Alqur’an berkata, Aku telah melarangnya tidur dimalam hari sehingga ia telah menitipkan safa’at kepadaku(HR.Ahmad, sanad shahih).
g. Dari Abu Hurairah Rasulullah bersabda : Barang siapa memberikan nafjah untuk dua istri dijalan Allah, maka ia akan dipanggil oleh salah satu dari pintu surga: Wahai hamba Allah, kemarilah untuk menuju kenikmatan. Barangsiapa berasal dari golongan orang-orang yang senantiasa mendirikan salat, maka dia akan dipanggil dari pintu salat,yang berasal dari kalangan yang suka berjihad, maka akan dipanggil dari pintu jihad,demikian juga dengan golongan yang berpuasa akan dipanggil dari pintu Rayyan, yang suka bersedekah akan dipanggil dari pintu sedekah. Abu Bakar bertanya Demi ayah dan ibuku wahai Rasulullah apakah setiap hamba akan dipanggil dari pintu-pintu tersebut? Lalu mungkinkah seseorang dipanggil dari seluruh pintu tersebut? Beliau menjawab, Ya, ada dan aku berharap engkau wahai Abu Bakaryang termasuk salah seorang diantara mereka (HR.Bukhari).
h. Puasa mengajarkan kesabaran serta menambah keimanan, mengajarkan pengendalian diri dan tingkah laku yang baikdan membantu kesembuhan berbagai macam penyakit seperti kencing manis, darah tinggi, maag.
Seperti sabda Rasul: Berpuasalah, niscaya engkau akan sehat (HR. Ibnu Adi dan Thabrani)
i. Puasa dapat menanamkan kasih sayang dan lemah lembut kepada fakir miskin serta mengajarkan sifat tolong menolong dan sensitivitas kepada orang-orang yang membutuhkan pertolongan.

4. Kewajiban Puasa Ramadhan Ditetapkan Melalui Ru’yah
Hal ini didasarkan pada hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Umar dimana Rasulullah bersabda : Janganlah berpuasa sehingga kalian melihat hilal, janganlah berbuka sehingga kalian melihat hilal ( pada bulan Syawal) dan janganlah berbuka sehingga kalian melihatnya. Jika kalian terhalangi oleh mendung, maka perkirakanlah hitungan pada bulan itu( HR.Muslim).

5. Hari - hari Disunatkannya Puasa
a. Hari Arafah yaitu tanggal 9 dan 10 Zulhijjah
Puasa pada hari Arafah dapat menghapuskan dosa selama 2 tahun, 1 tahun yang lalu dan 1 tahun yang akan datang (HR.Muslim).kecuali orang –orang yang sedang berada diarafah disunahkan bagi mereka berbuka atau tidak puasa , ini menurut mayoritas para ulama.
b. Pada hari Asyura’ yaitu bulan Muharram
Puasa pada bulan Muharram dapat menghapuskan dosa selama satu tahun sebelumnya .sesuai sabda Rasul: Aku memohon kepada Allah untuk menghapuskan dosa yang pernah aku perbuat pada satu tahun sebelumnya (HR.Muslim).
Ibnu Abbas menceritakan: Rasulullah memerintahkan puasa pada hari Asyura yaitu tanggal 10 Muharram(HR. Tirmizi).
c. Enam hari bulan Syawal
Sabda Rasul : Barang siapa berpuasa pada bulan Ramadhan, lalu dilanjutkan dengan puasa 6 hari pada bulan Syawal, maka nilainya seperti berpuasa sepanjang tahun (HR. Muslim, Abu Dawud, Tarmizi). Boleh dikerjakan berturut-turut, boleh berselang.
d. Limabelas hari pertama pada bulan Sya’ban
Dari Aisyah Ra, ia menceritakan: Aku tidak melihat Nabi saw meyempurnakan puasa satu bulan penuh, selain pada bulan Ramadhan. Dan aku tidak melihat beliau pada bulan-bulan yang lain berpuasa lebih banyak dari bulan Sya’ban (Muttafaqun Alaih).
e. Sepuluh hari pertama bulan Zulhijjah
Sesuai sabda Rasul : Tidak ada hari dimana amal shalih didalamnya lebih dicintai oleh Allah dari pada 10 hari pertama Zulhijjah, para sahabat bertanya kepada Rasul, wahai Rasul, tidak juga jihad fisabilillah ? Beliau menjawab, Tidak juga jihad fisabilillah, kecuali seseorang yang berangkat dengan membawa jiwa dan hartanya, lalu kembali tanpa membawa sedikitpun dari keduannya (HR.Bukhari).
f. Berselang
Sesuai sabda Rasul: Berpuasalah satu hari dan berbukalah satu hari berikutnya. Yang demikian itu merupakan puasa nabi Dawud dan merupakan puasa yang baik. Kemudian aku berkata : Sesungguhnya aku mampu melakukan lebih dari itu,maka Nabi menjawab, tidak ada yang lebih baik dari itu ( Muttafaqun Alaih).
g. Senin Kamis
berdasarkan hadis yang diriwayatkan dari Usamah bin Zaid, dimana Rasulullah senantiasa berpuasa pada hari senin dan kamis karena amal perbuatan manusia diangkat menuju Allah pada hari senin dan kamis ( HR. Abu Dawud).
h. Pertengahan bulan Qamariyah (tanggal 13,14,15, setiap bulan Hijriah)
Dari Abu Hurairah : Rasulullah berpesan kepadaku tiga hal, yaitu berpuasa 3 hari pada setiap bulannya, mengerjakan 2 raka’at salat duha serta salat witir sebelum tidur ( Muttafaqun Alaih).
Dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash, Rasul bersabda : Berpuasalah setiap bulannya 3 hari , karena sesungguhnya kebaikan pada hari itu dihitung dengan 10 kelipatanya (HR.Muttafaqun Alaih).

6. Waktu Waktu Dimakruhkannya Berpuasa
a. Berpuasa 1 bulan penuh pada bulan Rajab, kalaupun ada yang hendak berpuasa pada bulan itu hendaklah berselang, karena bulan Rajab adalah bulan yang diagungkan oleh orang Jahiliyah.
b. Pada hari Jum’at saja, sesuai sabda Rasul: Sesungguhnya hari Jum’at itu merupakan hari raya bagi kalian, karena itu janganlah berpuasa, kecuali berpuasa juga sebelum dan sesudahnya (HR. Al-Bazzar).
c. Pada hari sabtu saja, juga makruh puasanya, kecuali diikuti sebelum dan sesudahnya. Sesuai sabd aRasul: Janganlah kalian berpuasa pada hari sabtu, kecuali yang diwajibkan atas kalian (HR. Tirmizi).
d. Makruh puasa pada hari yang diragukan, yaitu hari ke30 bulan Sya’ban,sesuai sabda Rasul: Barangsiapa berpuasa pada hari yang diragukan, maka ia telah menentang Nabi Muhammad ( HR.Bukhari).
e. Mengkhususkan puasa pada tahun baru dan hari besar orang kafir adalah makruh, karena merupakan hari yang sangat diagungkan oleh orang kafir.
f. Puasa wishal, yaitu puasa selama 2 atau 3 hari tanpa berbuka hukumnya makruh, sabda Rasul: Rasulullah pernah puasa wishal pada bulan Ramadan, lalu diikuti oleh para sahabat, setelah itu beliau melarang, dan para sahabat bertanya, bukankah engkau melakukannya ? dan Beliau menjawab, sesungguhnya aku tidak seperti kalian, aku ini makan dan juga minum (Muttafaqun Alaih).
g. Puasa dahr, yaitu puasa yang dilakukan 1 tahun penuh.
Sabda Rasul : Tidak dianggap berpuasa bagi orang yang berpuasa selamanya. (HR. Muslim).
h. Janganlah seorang istri berpuasa, ketika suami berada disisinya, melainkan dengan izin suami, kecuali puasa bulan Ramadan (Muttafaqun Alaih).
i. Puasa 2 hari terakhir bulan sa’ban makruh, sesuai sabda Rasul: Janganlah salah seorang diantara kalian mendahului Ramadan dengan puasa 1 atau 2 hari , kecuali bagi orang yang terbiasa melakukan puasa, maka boleh baginya berpuasa ( Muttafaqun Alaih). Kecuali membayar hutang puasa, karena khawatir tidak bisa melakukannya dilain waktu.

7. Waktu –waktu yang diharamkan Puasa
a. Pada hari Idul Fitri dan Idul Adha baik itu untuk mengqada, membayar kafarat atau puasa sunat.
b. Pada hari Tasyriq yaitu 11,12, 13 Zulhijjah, sesuai sabda rasul: Hari tasyriq adalah hari untuk makan dan minum dan berzikir kepada Allah ( HR.Muslim).
c. Dibolehkan berbuka bagi wanita yang sakit.
Sesuai firman Allah Albaqarah 184 : Barang siapa diantara kalian ada yang sakit atau dalam perjalanan, lalu berbuka, maka wajiblah baginya mengganti puasa sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari yang lain.
d. Berbukanya seorang wanita yang berpuasa sunat, hal ini sesuai hadis dari Abu Said al Khudri : Aku pernah membuatkan makanan untuk Rasulullah ketika beliau datang bersama para sahabatnya kerumah. Pada saat makanan
dihidangkan, seorang sahabat berkata , aku sedang puasa , lalu Rasulullah berkata, saudara kalian ini sudah mengundang dan akan menjamu kalian, karenanya batalkan saja puasamu dan puasalah pada hari lain untuk menggantinya jika engkau mau ( HR. Baihaqi)

8. Sunnat-Sunnat Puasa
a. Menyegerakan berbuka, sesuai hadis ; Manusia senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka puasa (Muttafaqun Alaih).Disunatkan untuk berbuka dengan kurma, karena kurma dapat mempertajam pandangan, jika tidak ada boleh dengan air.
b. Sahur, sesuai hadis Rasulullah, makan sahurlah, karena sesungguhnya makan sahur itu mengandung berkah ( muttafaqun Alaih). Makan sahur hendaklah diakhirkan sampai mendekati fajar (subuh) hal ini dapat meringankan dalam berpuasa.
c. Berdoa ketika berbuka, karena orang yang berpuasa sehingga berbuka doanya tidak akan ditolak, sesuai sabda Rasul: Ada 3 golongan yang doanya tidak ditolak yaitu orang yang berpuasa sehingga berbuka, imam yang adil dan orang yang dizalimi ( HR. Tarmizi).

9. Puasa Bagi Orang Lanjut Usia
Bagi yang sudah lanjut usia dan tidak mampu untuk mengerjakan puasa, maka ia boleh berbuka, tapi harus diganti dengan memberi makan fakir miskin satu hari dengan satu mud dan tidak perlu mengqada puasanya.

10. Diperbolehkan Berbuka Bagi Musafir (orang dalam perjalanan )
Dalam Surat Albaqarah 184 : Barang siapa diantara kalian ada yang sakit atau dalam perjalanan lalu berbuka, maka wajib baginya berpuasa sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari yang lain.
Tapi jika tetap berpuasa diperjalanan, maka dapat tambahan pahala.

11. Puasa Bagi Wanita Hamil dan Menyusui
Sebagian ulama mengatakan, wanita hamil dan menyusui boleh berbuka, tapi harus menggantinya pada hari yang lain atau memberikan makan pada orang miskin (fidyah). Sesuai sabda Rasul : Sesungguhnya Allah telah memaafkan setengah nilai salat dari para musafir serta memberikan kemurahan bagi wanita hamil dan menyusui, Demi Allah, Rasulullah telah mengatakan keduanya, salah satu atau keduanya (HR. An-Nasai & Tarmizi).

12. Yang Membatalkan Puasa dan Yang Mewajibkan Kafarat
a. Orang yang sengaja makan dan minum siang hari, puasanya jadi batal dan harus mangqada serta harus bayar kafarat (denda ), kecuali dalam keadaan lupa.
b. Muntah dengan sengaja, sesuai hadis Rasulullah : Barang siapa terpaksa muntah, maka tidak ada kewajiban baginya mengganti puasa, tapi barang siapa yang memaksakan diri untuk muntah, maka hendaklah dia mengqada puasanya ( HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmizi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Daruquthni dan Al-Hakim).
c. Mamandang orang laki-laki dengan nafsu birahi atau mengingat-ingat hubungan badan, puasanya batal dan harus mengqadanya.
d. Haid dan nifas , puasanya jadi batal. Sedangkan keluarnya istihadah tidak membatalkan puasa.
e. Jika seorang suami menyetubuhi istri tidak dengan persangkaan bahwa waktu magrib telah masuk atau mengira fajar belum tiba, maka keduanya tidak diwajibkan bayar kafarat, menurut mayoritas ulama mereka harus mengqadanya.
f. Jika wanita muslimah berniat untuk berbuka, sedang ia dalam keadaan berpuasa, maka puasanya jadi batal, karena niat adalah salah satu sarat sahnya puasa.

13. Hal hal Yang Boleh Dilakukan oleh Wanita Yang Puasa
a. Membasahi seluruh badan dengan air atau mandi.
b. Meneteskan obat mata dan memakai celak.
c. Mencium dan mendapat ciuman dari suami selama ciuman itu tidak menggerakan nafsu sahwat.
d. Suntik, baik pada kulit maupun urat.
e. Berkumur dan memasukkan air kehidung, keduanya tidak membatalkan puasa, tapi dimakruhkan melakukannya dengan berlebihan.
f. Diperbolehkan mencicipi makanan melalui ujung lidah, tapi haru hati-hati jangan sampai masuk kerongga mulut.

14. Jika Tidak Berniat Malam Hari Sebelum Puasa
Diperbolehkan berpuasa, meskipun tidak diniati sejak malam harinya, ketika waktu pagi tiba ( fajar ) ia boleh puasa dan jika berkehendak boleh berbuka.

15. Waktu Yang Meninggal dan Memiliki Hutang Puasa
Bila seseorang yang telah meninggal dan masih mempunyai hutang puasa, boleh digantikan oleh walinya, sesuai hadis Rasul : Barang siapa yang meninggal dunia dalam keadaan meninggalkan kewajiban qadha puasa, maka hendaklah walinya berpuasa untuk menggantikannya ( HR. Bukhari )
16. Kafarat
Orang yang berbuka siang hari pada bulan Ramadan, maka hanya berkewajiban mengqadhanya saja. Sedangkan bila seseorang yang membatalkan puasa karena berhubungan badan disiang hari pada bulan Ramadan, maka harus membebaskan budak yang beriman, atau berpuasa selama 2 bulan berturut-turut, atau memberikan makan 60 orang miskin, setiap orangnya mendapat 1 mud gandum atau kurma ( makanan poko yang mengenyangkan) sesuai dengan kemampuan.

17. Malam Lailatul Qadar
a. Keutamaan lailatul qadar
Amal perbuatan pada malam ini lebih baik daripada amalan seribu bulan yang dikerjakan tidak pada malam lailatul qadar. Dalam surat AlQadar 1-3 :
Sesungguhnya Kami telah menurunkan AlQuran pada malam kemuliaan, Tahukan kamu apa malam kemuliaan itu ? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.
b. Waktu malam lailatul qadar
yaitu pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadan, tepatnya pada malam-malam ganjil dari bulan-bulan tersebut, seperti bulan 21, 23, 25, 27, 29. Diriwayatkan juga bahwa malam lailatul qadar adalah bulan yang sangat terangdan penuh cahaya, malam yang tenang dan tidak memancarkan panas yang menyengatdan tidak juga dingin menggigil dimana Allah SWT telah menyingkapkan bagi sebagian orang didalam tidurnya.
c. Bangun dan berdoa pada malam lailatul qadar.
Disunatkan untuk bersungguh-sungguh dalam berdoa pada malam lailatul qadar ini. Sesuai Sabda Rasulullah : Barang siapa bangun pada malam lailatul qadar karena dorongan iman dan mengharapkan pahala, maka diberikan ampunan baginya atas dosa-dosanya yang telah lalu.

Ringkasan dari fiqih wanita edisi lengkap karangan Syaikh Kamil Muhammad Uwaidah

Puasa
Firman Allah Ta’ala :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Maksudnya : “ Wahai orang-orang yang beriman telah diwajibkan ke atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan ke atas umat-umat yang sebelum kamu semoga kamu menjadi orang-orang yang bertaqwa ”. (Surah Al-Baqarah Ayat 183)
Pengertian Puasa
Ertinya menahan diri dari makan dan minum dan dari segala perbuatan yang boleh membatalkan puasa mulai dari terbit fajar hinggalah terbenam matahari.
Hukum – Hukum Puasa
  1. Wajib
  2. Sunat
  3. Makruh
  4. Haram
Puasa wajib :
Puasa yang dilakukan dalam bulan Ramadhan, qada’ puasa Ramadhan,puasa kifarah & puasa nazar.
Puasa Sunat : a) Puasa dalam bulan Sya’ban
b) Puasa 6 hari dalam bulan Syawal
c) Puasa Arafah pada 9 zulhijjah
d) Puasa hari Tasu’a dan ‘Asyura pada 9 & 10 Muharram
f) Puasa pada hari Isnin & Khamis
g) Puasa tiga hari daripada tiap-tiap bulan pada 13,14 & 15
h) Puasa satu hari berbuka satu hari
i) Puasa lapan hari daripada bulan Zulhijjah sebelum hari Arafah bagi orang yang sedang mengerjakan haji atau tidak.
j) Puasa dalam bulan–bulan haram iaitu bulan Zulkaedah,Zulhijjah,Muharram dan Rejab
Puasa Makruh :
a) Menentukan hari untuk berpuasa seperti jumaat sahaja,Sabtu & Ahad sahaja
b) Berpuasa sepanjang tahun
Puasa Haram :
a) Puasa sunat seorang perempuan tanpa izin suaminya
b) Puasa pada hari syak iaitu pada hari 30 Sya’ban
c) Puasa pada hari raya aidil fitri,hari raya aidil adha dan hari-hari Tasyrik
d) Puasa perempuan haid & Nifas
e) Puasa bagi orang yang bimbang berlakunya mudharat ke atas dirinya kerana berpuasa
Syarat-syarat Puasa
Terbahagi kepada 2 :
1) Syarat-syarat wajib
2) Syarat-syarat sah
Syarat wajib
a) Islam
b) baligh
c) berakal
d) berupaya(sihat)
e) bermukim
Syarat Sah
a) Islam
b) Berakal
c) Bersih daripada haid & Nifas sepanjang hari
d) Niat
Rukun Puasa
a) Niat
b) Menahan diri dari makan & minum serta perkara-perkara yang membatalkannya
Masa Puasa
Puasa bermula dari terbit fajar hingga terbenam matahari
Faedah Puasa
a) Melahirkan perasaan belas kasihan terhadap golongan miskin
b) Mendidik nafsu & jiwa kearah kebaikan
c) Dapat merasai apa yang ditanggung oleh golongan miskin
d) Puasa merupakan perbuatan taat kepada Allah
e) Mendidik budi pekerti untuk memiliki sifat-sifat terpuji
f) Puasa mengajar seseorang supaya beramanah terhadap diri sendiri
g) Puasa mengajar kesabaran dan berperaturan
f) Puasa menyebarkan perasaan kasih sayang & persaudaraan dalam jiwa manusia
Sunat-sunat puasa
a) Makan Sahur serta melambatkannya
b) Menyegerakan berbuka puasa & sunat berbuka dengan buah kurma atau benda-benda yang manis
c) Menjamu orang-orang yang berbuka puasa
d) Mandi junub,haid dan nifas sebelum fajar
e) Memperbanyakkan ibadah dan berbuat kebaikan
f) Membaca Al-Quran
g) Beriktikaf terutama 10 hari terakhir bulan Ramadhan
Perkara makruh ketika berpuasa
a) Berbekam
b) Mengeluarkan darah
c) Berkucup
d) Merasa makanan
e) Bersugi selepas gelincir matahari
f) Mencium wangian
Perkara yang membatalkan puasa
a) Memasukkan sesuatu ke dalam rongga dengan sengaja kecuali terlupa
b) Makan dan minum sepanjang hari
c) Muntah dengan sengaja
d) Bersetubuh atau keluar mani dengan sengaja
e) Keluar darah haid & nifas
f) Gila
g) Pitam atau mabuk sepanjang hari
h) Murtad
Keuzuran yang mengharuskan berbuka puasa
a) Musafir
b) Sakit
c) Mengandung & Ibu yang menyusukan anak
d) Tua
Keistimewaan Bulan Ramadhan
a) Bulan yang mulia,berkat dan setiap doa akan dimakbulkan
b) Allah merahmati orang yang mengimaninya
c) Al-Quran diturunkan dalam bulan ini
d) Iblis dipenjarakan
e) Terdapat malam yang mulia iaitu malam Lailatul qadar.
f) Solat tarawikh dan zakat fitrah dilaksanakan.
Menghormati Bulan Ramadhan
a) Kita hendaklah mengelakkan diri daripada kebiasaan yang boleh merugikan diri kita seperti berbelanja dengan boros,suka berhibur,membuang masa dan bersembang tentang perkara-perkara yang tidak mendatangkan faedah sebaliknya hendaklah kita menyambut Ramadhan dengan azam yang tinggi untuk memperbanyakkan ibadat bagi menyucikan jiwa.
b) Kita hendaklah berusaha menyediakan diri untuk menjaga benih-benih amal yang kita tanam di bulan Ramadhan kerana seseorang yang menanam benih jika tidak membaja,menyiram serta memelihara pasti tidak akan mengeluarkan hasil yang baik di masa hadapan.
Niat Puasa dan Qadha’ Puasa Ramadhan
1) Lafaz niat puasa fardhu Ramadhan :
نويت صوم غد عن أداء فرض شهررمضان هذه السنة لله تعالى .
Ertinya : Sahaja aku puasa esok hari menunaikan fardhu Ramadhan tahun ini kerana Allah Taala.
2) Lafaz niat puasa Qhada’ Ramadhan :
نويت صوم غد عن قضاء فرض رمضان لله تعالى .
Ertinya : Sahaja aku puasa esok hari kerana ganti fardhu Ramadhan kerana Allah Taala.
Doa Ketika Berbuka Puasa
اللهم لك صمت وبك آمنت وعلى رزقك أفطرت برحمتك ياأرحم الراحمين.
Ertinya : Ya Tuhanku keranamu jua aku berpuasa dan denganmu aku beriman dan di atas rezekimu aku berbuka dengan belas kasihanmu Ya Allah yang amat mengasihani.
Qada’ Puasa Ramadhan
Ialah menggantikan puasa yang terbatal pada bulan Ramadhan diatas sebab-sebab yang diharuskan berbuka oleh syara’
Hukum Qada’ Puasa Ramadhan
Wajib menggantikan puasa Ramadhan bagi yang membatalkan puasa Ramadhannya samaada kerana keuzuran ataupun tanpa sebarang keuzuran
Firman Allah Ta’ala :
أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
Maksudnya : “(Puasa yang diwajibkan itu ialah) beberapa hari yang tertentu maka sesiapa diantara kamu yang sakit atau dalam musafir (bolehlah ia berbuka) kemudian wajiblah ia berpuasa sebanyak (hari yang dibuka) itu pada hari-hari yang lain dan wajib ke atas orang-orang yang tidak terdaya berpuasa (kerana tuanya dan sebagainya) membayar fidyah iaitu memberi makan orang miskin (secupak bagi tiap-tiap satu hari yang tidak dikerjakan puasa) maka sesiapa yang dengan sukarela memberikan (bayaran fidyah) lebih dari yang di tentukan itu maka itu adalah suatu kebaikan baginya dan (walaupun demikian) berpuasa itu lebih baik bagi kamu (daripada memberi fidyah) kalau kamu mengetahui ”. (Surah Al-Baqarah Ayat 184)
Waktu Qada’ Puasa Ramadhan
- Waktunya selepas bulan Ramadhan sehingga ke bulan Ramadhan yang berikutnya walaubagaimanapun qada’ puasa yang dilakukan dalam masa dilarang berpuasa adalah tidak sah contohnya seperti di hari raya.
- Adapun bagi orang yang mengakhirkan qada’ Ramdhan tanpa uzur sehingga Ramadhan yang berikutnya datang lagi maka ia wajib qada’ dan membayar fidyah.
Kifarah Puasa
Ialah seseorang yang merosakkan puasanya dalam bulan Ramadhan dengan jalan melakukan jima’ maka ia wajib membayar kifarah (denda) iaitu si suami wajib mengeluarkan kifarah & qada’ puasa yang terbatal kerana jima’ walaubagaimanapun si isteri tidak wajib mengeluarkan kifarah tetapi wajib qada’ puasa yang terbatal.
Kifarah bagi puasa yang batal atau rosak ialah :
1) Membebaskan seorang hamba yang beriman
2) Jika tiada hamba untuk dibebaskan, wajib ke atasnya berpuasa 2 bulan berturut-turut
3) Jika tidak mampu berpuasa, wajib dia memberikan makan 60 orang fakir miskin setiap seorang mendapat secupak makanan asasi negeri itu.
Fidyah
Ialah bayaran denda dengan memberi makan orang miskin (secupak bagi tiap-tiap satu hari yang tidak dikerjakan puasa) dengan sebab-sebab tertentu atau mengakhirkan qada’ Ramadhan tanpa uzur sehingga Ramadhan yang berikutnya datang lagi. Satu cupak bersamaan dengan 620 gram.
Hukum Fidyah
Wajib di keluarkan berdasarkan Firman Allah Ta’ala :
أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
Maksudnya : “(Puasa yang diwajibkan itu ialah) beberapa hari yang tertentu maka sesiapa diantara kamu yang sakit atau dalam musafir (bolehlah ia berbuka) kemudian wajiblah ia berpuasa sebanyak (hari yang dibuka) itu pada hari-hari yang lain dan wajib ke atas orang-orang yang tidak terdaya berpuasa (kerana tuanya dan sebagainya) membayar fidyah iaitu memberi makan orang miskin (secupak bagi tiap-tiap satu hari yang tidak dikerjakan puasa) maka sesiapa yang dengan sukarela memberikan (bayaran fidyah) lebih dari yang di tentukan itu maka itu adalah suatu kebaikan baginya dan (walaupun demikian) berpuasa itu lebih baik bagi kamu (daripada memberi fidyah) kalau kamu mengetahui ”. (Surah Al-Baqarah Ayat 184)
Sebab-sebab wajib Fidyah
1) Tidak mampu melakukan ibadah puasa
2) Sakit yang tidak mampu untuk sembuh
3) Perempuan hamil atau menyusukan anak iaitu jika berpuasa mendatangkan mudharat kepada anak yang di kandung dan boleh mengurangkan air susu
4) Mengakhirkan qada’ Ramadhan tanpa uzur sehingga Ramadhan yang berikutnya datang lagi.
SEMBAHYANG YANG DISUNATKAN SECARA BERJEMAAH
Sembahyang Tarawih
Sembahyang tarawih disyari‘atkan khusus pada bulan Ramadhan dan sunat didirikan secara berjama‘ah serta sah jika didirikan secara individu. Waktunya di antara sembahyang ‘Isya’ dan sembahyang Subuh dan sebelum sembahyang witir. Ia boleh didirikan sebanyak lapan raka‘at dan boleh sebanyak dua puluh raka‘at dengan dilakukan setiap dua raka‘at satu salam.

Sembahyang Dua Hari Raya
  • Sembahyang hari raya iaitu hari raya puasa dan hari raya korban merupakan sunnah mu’akkadah. Ia dituntut supaya dilakukan secara berjama‘ah tetapi tetap sah jika dilakukan secara bersendirian. Waktunya bermula dari terbit matahari hingga gelincir matahari. Waktu yang lebih afdhal ialah ketika matahari naik sekadar panjang lembing (tinggi segalah).
  • Sembahyang hari raya mempunyai dua raka`at. Ia dimulakan dengan takbiratul ihram kemudian membaca doa iftitah, kemudian bertakbir sebanyak tujuh kali seperti mana takbiratul ihram. Ketujuh-tujuh takbir tadi dipisahkan antara satu sama lain sekadar satu ayat yang sederhana dan disunatkan membaca tasbih. Kemudian membaca al-isti`azah dan membaca al-fatihah serta dibaca bersamanya satu surah atau beberapa ayat. Takbir untuk raka‘at yang kedua hanyalah sebanyak lima kali. Selain daripada itu disunatkan berkhutbah dengan dua khutbah setelah selesai sembahyang sama seperti khutbah jumaat, cuma ia dilakukan selepas sembahyang.

MALAM LAITUL QADAR


Malam lailatul qadar malam yang sangat dinanti2kan...dan masanya pula adalah dalam rashia Allah swt...cuma dianggarkan atau besar kemungkinan berlaku pada 10 malam terakhir pada bulan ramadhan tersebut.Serta ada yang berpendapat mengatakan peluang agak besar pada malam2 ganjil...21,23,25,27 dan 29.Bagi penulis ,perkara ini adalah kurniaan Allah swt...sesiapa yang IA kehendaki ,maka peluangnya amat cerah,bagi mereka2 yang telah lama mendekati dirinya dengan Allah.

Dalam erti kata yang lain,persiapan@persediaannya telah dibuat awal2 lagi....Mungkin orang yang telah lama bertungkus lumus beribadah,sama ada wajib dan sunnat2....

Disamping akidahnya benar dan ibadah yang sah...berpeluang untuk dikurniakan malam laitul qadar ini.Bagi gulungan macam kita ini,yang mungkin ibadat tidak seberapa...boleh juga mencari2 malam laitul qadar...mungkin juga akan dikurniakan oleh Allah swt.....secara lawak atau bergurau...adakah orang macam kita ini dapat...kalau ibadah kita diluar bulan ramadhan tidak sebaik amalan pada bulan ramadhan....fikir2kanlah jangan kita syok sendiri....Itulah penulis biasa katakan...bulan ramadhan orang berpusu2 ke masjid@surau...untuk solat taraweh....bertadarus dsbnya...jangan pula kita salah beramal,sudahlah,maksud penulis...solat taraweh tetapi belum solat isyak.

Syarat sah solat taraweh ialah solat isyak terlebih dahulu.Sebab ada penulis lihat..ia tidak solat isyak di masjid@surau...datang2 sahaja terus solat taraweh...dikhuatiri ia tidak tahu hukum...mungkin ia menganggap lepas taraweh boleh solat isyak.Memang kena solat isyak...sebab itu wajib....tapi solat taraweh itu tidak sahlah...Ini disebabkan mereka tidak belajar,main ikut2 sahaja...sebab akhir2 zaman ini...ahli ibadah banyak tapi jahil....Rajin ke masjid@surau pada bulan ramadhan,lepas ramadhan tidak nampak kelibatnya lagi datang ke masjid@surau...sedangkan menuntut ilmu fardu ain itu wajib....Disini penulis salin dari kitab 'idaman penuntut pada menghuraikan yang kusut'oleh us.Abdul Ghani Yahya.....bagaimana hendak mencari malam laitul qadar tersebut...'menurut Imam Shafie bahawa laitul qadar itu terkandung dalam sepuluh ramadhan yang akhir,tetapi pada malam2 yang ganjil ada lebih harapan,dan diantara yang ganjil itu pula yang lebih diharap2kan ialah malam dua puluh satu dan malam dua puluh tiga...berkata Imam Ghazali dan lain2 ulamak,laitul qadar pada malam yang ganjil dalam sepuluh ramadhan yang akhir.Untuk hendak tahukan tandanya,kena tengok apa hari jatuh pada awal ramadhan.....

Jika sehari bulan kena pada hari Ahad atau Rabu laitul qadar berlaku pada malam 29...
Jika sehari bulan kena pada hari Isnin laitul qadar berlaku pada malam 21
Jika sehari bulan kena pada hari selasa atau jumaat laitul qadar berlaku pada malam 27
Jika sehari bulan kena pada hari khamis laitul qadar berlaku pada malam 25
Jika sehari bulan kena pada hari sabtu laitul qadar berlaku pada malam 23
berkata sheikh Abu Hassan dari sejak saya baligh tidak pernah saya lepaskan peluang untuk mencari malam laitul qadar dengan kaedah yang tersebut....setinggi amalan,ialah dengan memperbanyakkan solat,baca quran serta berdoa...disamping ibadah sunnat yang lain....


IKTIKAF


Jenis-jenis iktikaf

Iktikaf yang disyariatkan ada dua bentuk; pertama sunat, dan kedua wajib.
Iktikaf sunnat iaitu yang dilakukan secara sukarela semata-mata untuk bertaqorrub kepada Allah SWT seperti; iktikaf 10 hari terakhir bulan Ramadan.
Dan iktikaf yang wajib iaitu yang didahului dengan nazar (janji), seperti: "Kalau Allah SWT menyembuhkan penyakitku ini, maka aku akan beriktikaf.

Waktu iktikaf

Iktikaf wajib tergantung pada berapa lama waktu yang dinazarkan, sedangkan iktikaf sunat tidak ada batasan waktu tertentu, bila-bila saja pada malam atau siang hari, waktunya boleh lama atau singkat.
Ya'la bin Umayyah berkata: " Sesungguhnya aku berdiam satu jam di masjid tak lain hanya untuk beriktikaf."

Syarat-syarat iktikaf

Orang yang iktikaf harus memenuhi kriteria-kriteria sebagai berikut:
  1. Muslim
  2. Berakal
  3. Suci dari janabah (junub), haid dan nifas.
Oleh kerana itu, iktikaf tidak sah bagi orang kafir, anak yang belum mumaiyiz (mampu membezakan), orang junub, wanita haid dan nifas.

Rukun-rukun iktikaf

  1. Niat (QS. Al Bayyinah : 5), (HR: Bukhari & Muslim tentang niat)
  2. Berdiam di masjid (QS. Al Baqarah : 187)
Di sini ada dua pendapat ulama tentang masjid tempat iktikaf. Sebahagian ulama membolehkan iktikaf di setiap masjid yang diguna untuk solat berjemaah lima waktu.
Hal itu dalam rangka menghindari seringnya keluar masjid dan untuk menjaga pelaksanaan solat jemaah setiap waktu.
Ulama lain mensyaratkan agar iktikaf itu dilaksanakan di masjid yang diguna untuk membuat solat Jumaat, sehingga orang yang beriktikaf tidak perlu meninggalkan tempat iktikafnya menuju masjid lain untuk solat Jumaat.
Pendapat ini dikuatkan oleh para ulama Syafiiyah bahawa yang afdal iaitu iktikaf di masjid jami', kerana Rasulullah s.a.w iktikaf di masjid jami'. Lebih afdal di tiga masjid; Masjid al-Haram, Masjid Nabawi dan Masjid Aqsa.

Hal-hal yang diperbolehkan bagi mutakif (orang yang beriktikaf)

  1. Keluar dari tempat iktikaf untuk menghantar isteri, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah s.a.w terhadap isterinya Sofiyah ra. (HR. Riwayat Bukhari dan Muslim)
  2. Menyisir atau mencukur rambut, memotong kuku, membersihkan tubuh dari kotoran dan bau badan.
  3. Keluar dari tempat keperluan yang harus dipenuhi, seperti membuang air besar dan kecil, makan, minum (jika tidak ada yang menghantarkannya), dan segala sesuatu yang tidak mungkin dilakukan di masjid, tetapi ia harus segera kembali setelah menyelesaikan keperluannya .
  4. Makan, minum, dan tidur di masjid dengan sentiasa menjaga kesucian dan kebersihan masjid.

Hal-hal yang membatalkan iktikaf

  1. Meninggalkan masjid dengan sengaja tanpa keperluan walaupun sebentar, kerana meninggalkan salah satu rukun iktikaf iaitu berdiam di masjid.
  2. Murtad ( keluar dari agama Islam )
  3. Hilangnya akal, kerana gila atau mabuk
  4. Haid atau Nifas
  5. Berjimak (bersetubuh dengan isteri) (QS. 2: 187), akan tetapi memegang tanpa syahwat, tidak apa-apa sebagaimana yang dilakukan Nabi dengan isteri- isterinya.
  6. Pergi solat Jumaat (bagi mereka yang membolehkan iktikaf di surau yang tidak digunapakai untuk solat Jumaat).

Panduan iktikaf di bulan Ramadan

Di antara rangkaian ibadah dalam bulan suci Ramadan yang sangat dipelihara sekaligus diperintahkan (dianjurkan ) oleh Rasulullah s.a.w adalah iktikaf. Setiap muslim dianjurkan (disunatkan) untuk beriktikaf di masjid, terutama pada 10 hari terakhir bulan Ramadan.

Iktikaf merupakan pendekatan ibadat yang sangat efektif bagi muslim dalam memelihara keislamannya khususnya dalam era globalisasi, materialisasi dan informasi masa kini.

Definisi Iktikaf

Para ulama mendefinisikan iktikaf iaitu berdiam atau tinggal di masjid dengan adab-adab tertentu, pada masa tertentu dengan niat ibadah dan untuk mendekatkan kepada Allah SWT.

Ibnu Hazm berkata: Iktikaf adalah berdiam di dalam masjid dengan niat mendekatkan diri (taqorrub) kepada Allah SWT pada waktu tertentu pada siang atau malam hari. (al MuhallaV/179)

Hukum Iktikaf

Para ulama telah berijmak bahawa iktikaf khususnya 10 hari terakhir bulan Ramadan merupakan suatu ibadah yang disyariat dan disunatkan oleh Rasulullah s.a.w.

Rasulullah s.a.w sendiri sentiasa beriktikaf pada bulan Ramadan selama 10 hari.

Aisyah, Ibnu Umar dan Anas r.a meriwayatkan: "Adalah Rasulullah s.a.w beriktikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramadan" (HR. Bukhri & Muslim).

Hal ini dilakukan oleh baginda hingga wafat, kecuali pada tahun wafatnya, baginda beriktikaf selama 20 hari.

Demikian halnya para sahabat dan isteri baginda sentiasa melaksanakan ibadah yang amat agung ini. Sehubungan itu, Imam Ahmad berkata: " Sepengetahuan saya tak seorang pun ulama mengatakan iktikaf bukan sunat."

Fadhilat (keutamaan) iktikaf

Abu Daud pernah bertanya kepada Imam Ahmad: Tahukah anda hadis yang menunjukkan keutamaan iktikaf?

Imam Ahmad menjawab : Tidak, kecuali ia hadis lemah (daif).

Namun demikian tidaklah mengurangi nilai ibadah iktikaf itu sendiri sebagai taqorrub kepada Allah SWT. Dan cukuplah keuatamaannya bahawa Rasulullah s.a.w, para sahabat, para isteri Rasulullah s.a.w dan para ulama salafus soleh sentiasa melakukan ibadah ini.

Jenis-jenis iktikaf

Iktikaf yang disyariatkan ada dua bentuk; pertama sunat, dan kedua wajib.

Iktikaf sunnat iaitu yang dilakukan secara sukarela semata-mata untuk bertaqorrub kepada Allah SWT seperti; iktikaf 10 hari terakhir bulan Ramadan.

Dan iktikaf yang wajib iaitu yang didahului dengan nazar (janji), seperti: "Kalau Allah SWT menyembuhkan penyakitku ini, maka aku akan beriktikaf.

Waktu iktikaf

Iktikaf wajib tergantung pada berapa lama waktu yang dinazarkan, sedangkan iktikaf sunat tidak ada batasan waktu tertentu, bila-bila saja pada malam atau siang hari, waktunya boleh lama atau singkat.

Ya'la bin Umayyah berkata: " Sesungguhnya aku berdiam satu jam di masjid tak lain hanya untuk beriktikaf."

Syarat-syarat iktikaf

Orang yang iktikaf harus memenuhi kriteria-kriteria sebagai berikut:

1. Muslim
2. Berakal
3. Suci dari janabah (junub), haid dan nifas.

Oleh kerana itu, iktikaf tidak diperbolehkan bagi orang kafir, anak yang belum mumaiyiz (mampu membezakan), orang junub, wanita haid dan nifas.

Rukun-rukun iktikaf

1. Niat (QS. Al Bayyinah : 5), (HR: Bukhari & Muslim tentang niat)
2. Berdiam di masjid (QS. Al Baqarah : 187)

Di sini ada dua pendapat ulama tentang masjid tempat iktikaf. Sebahagian ulama membolehkan iktikaf di setiap masjid yang diguna untuk solat berjemaah lima waktu.

Hal itu dalam rangka menghindari seringnya keluar masjid dan untuk menjaga pelaksanaan solat jemaah setiap waktu.

Ulama lain mensyaratkan agar iktikaf itu dilaksanakan di masjid yang diguna untuk membuat solat Jumaat, sehingga orang yang beriktikaf tidak perlu meninggalkan tempat iktikafnya menuju masjid lain untuk solat Jumaat.

Pendapat ini dikuatkan oleh para ulama Syafiiyah bahawa yang afdal iaitu iktikaf di masjid jami', kerana Rasulullah s.a.w iktikaf di masjid jami'. Lebih afdal di tiga masjid; Masjid al-Haram, Masjid Nabawi dan Masjid Aqsa.

Awal dan akhir iktikaf

Khusus iktikaf Ramadan waktunya dimulai sebelum terbenam matahari malam ke-21. Sebagaimana sabda Rasulullah s.a.w : " Barang siapa yang ingin beriktikaf denganku, hendaklah ia beriktikaf pada 10 hari terakhir Ramadan (HR. Bukhari). 10 (sepuluh) di sini adalah jumlah malam, sedangkan malam pertama dari sepuluh itu adalah malam ke-21 atau 20.

Adapun waktu keluarnya atau berakhirnya, kalau iktikaf dilakukan 10 malam terakhir, iaitu setelah terbenam matahari, hari terakhir bulan Ramadan.

Akan tetapi beberapa kalangan ulama mengatakan yang lebih mustahab (disenangi) adalah menuggu sampai solat hari raya.

Hal-hal yang disunatkan waktu beriktikaf

Disunatkan agar orang yang beriktikaf memperbanyak ibadah untuk bertaqorrub kepada Allah SWT ,seperti solat, membaca al-Quran, tasbih, tahmid, tahlil, takbir, istighfar, selawat ke atas Nabi s.a.w, doa dan sebagainya serta termasuk juga di dalamnya pengajian, ceramah, majlis ta'lim, diskusi ilmiah, mentelaah buku tafsir, hadis, sirah dan sebagainya.

Hal-hal yang diperbolehkan bagi mutakif (orang yang beriktikaf)

1. Keluar dari tempat iktikaf untuk menghantar isteri, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah s.a.w terhadap isterinya Sofiyah ra. (HR. Riwayat Bukhari dan Muslim)
2. Menyisir atau mencukur rambut, memotong kuku, membersihkan tubuh dari kotoran dan bau badan.
3. Keluar dari tempat keperluan yang harus dipenuhi, seperti membuang air besar dan kecil, makan, minum (jika tidak ada yang menghantarkannya), dan segala sesuatu yang tidak mungkin dilakukan di masjid, tetapi ia harus segera kembali setelah menyelesaikan keperluannya .
4. Makan, minum, dan tidur di masjid dengan sentiasa menjaga kesucian dan kebersihan masjid.

Hal-hal yang membatalkan iktikaf

1. Meninggalkan masjid dengan sengaja tanpa keperluan walaupun sebentar, kerana meninggalkan salah satu rukun iktikaf iaitu berdiam di masjid.
2. Murtad ( keluar dari agama Islam )
3. Hilangnya akal, kerana gila atau mabuk
4. Haid atau Nifas
5. Berjimak (bersetubuh dengan isteri) (QS. 2: 187), akan tetapi memegang tanpa syahwat, tidak apa-apa sebagaimana yang dilakukan Nabi dengan isteri- isterinya.
6. Pergi solat Jumaat (bagi mereka yang membolehkan iktikaf di surau yang tidak digunapakai untuk solat Jumaat).



Iktikaf dekatkan diri pada Allah

Hari ini adalah hari ke-21 umat Islam di Malaysia berpuasa Ramadan. Ini bermakna, kita telah memasuki fasa ketiga Ramadan iaitu berada pada 10 malam terakhir yang terkandung di dalamnya lailatul qadar.
Pada suku terakhir Ramadan, umat Islam digalakkan meningkatkan ibadat sunat. Antara yang paling utama ialah beriktikaf untuk beribadat pada sebelah malamnya.
Abu Hurairah meriwayatkan Rasulullah s.a.w beriktikaf pada setiap bulan Ramadan sebanyak 10 hari. Apabila tiba tahun yang baginda wafat padanya, baginda beriktikaf selama 20 hari. (riwayat Bukhari)
Allah berfirman: Dan pada sebahagian daripada malam, maka sujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bahagian yang panjang di malam hari. (al-Insan: 26)
Wartawan MOHD. RADZI MOHD. ZIN dan jurufoto NAZERI ABU BAKAR menemu bual Imam Besar Masjid Negara, Datuk Syaikh Ismail Muhammad bagi mengupas tentang ibadat sunat ini.
MEGA: Bagaimanakah kita boleh mendapat pahala dalam mengerjakan iktikaf ini?
SYAIKH ISMAIL: Iktikaf adalah amalan baik yang amat disunatkan kepada umat Islam melakukannya. Lebih-lebih lagi pada bulan Ramadan.
Maksud iktikaf di sini ialah mendampingi masjid. Tujuan iktikaf ini ialah untuk membersihkan hati dengan mengingati Allah dan taqarrub (berdamping) dengan Allah Yang Maha Pencipta dengan hati yang ikhlas. Allah amat menyukai hamba-hamba-Nya yang sentiasa berusaha bertaqarrub kepada-Nya.
Ia boleh dilakukan setiap kali kita berada di masjid iaitu semasa menunggu waktu solat Isyak misalnya, kita berniat beriktikaf. Dengan niat begini, kita sudah pun beroleh pahala.
Dalam bulan Ramadan ini kita perlu merebut peluang di mana ibadat sunat yang dilakukan itu diberi ganjaran ibadat fardu. Ibadat fardu pula diberi ganjaran 70 kali ganda.
Apakah amalan yang dianjur kita lakukan semasa iktikaf ini?
SHAIKH ISMAIL: Sudah tentu apabila kita beriktikaf untuk mendekatkan diri kepada Allah, kita akan melakukan sesuatu ibadat.
Iktikaf ini hendaklah dilakukan di masjid atau surau yang didirikan solat Jumaat padanya.
Perkara yang sunat dilakukan ialah berqiamullail iaitu membanyakkan ibadat sunat seperti solat tahajud, hajat, taubat, tasbih, mutlak yang diakhiri dengan solat sunat witir.
Selain itu, membaca al-Quran kerana Rasulullah pernah bersabda, membaca al-Quran adalah ibadat sunat yang paling afdal.
Bersabda Rasulullah s.a.w., “Barang siapa membaca satu huruf kitab Allah, memperoleh satu kebajikan. Saya tidak mengatakan Alif lam mim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf.” (riwayat al-Tirmizi)
Kita juga boleh bertasbih, bertahmid, beristighfar, berselawat dan berdoa.
Bagi mereka yang berkesempatan, boleh juga menghadiri majlis ilmu, mengulangkaji kitab-kitab agama, sirah nabi dan sebagainya.
Bagaimanapun, kita boleh juga membaca buku-buku akademik contohnya berkaitan sains dan teknologi. Yang penting ia memberi manfaat kepada diri dan masyarakat. Membaca buku-buku begini pun turut diberi ganjaran pahala oleh Allah s.w.t.
Ada yang berpendapat, qiamullail itu wajib disertai dengan solat sunat yang banyak. Benarkah?
SYAIKH ISMAIL: Pandangan begini kurang tepat. Memanglah afdal jika kita boleh mendirikan pelbagai solat sunat semasa qiamullail terutamanya solat tasbih.
Tentang solat tasbih ini, Rasulullah pernah bersabda, “Kalau boleh didirikan setiap malam, kalau tidak boleh, seminggu sekali, kalau tidak boleh sebulan sekali, paling tidak pun setahun sekali”. Allah menjanjikan keampunan dosa yang lalu dan akan datang untuk mereka yang mengerjakan solat ini.
Bagaimanapun, paling minimum qiamullail ialah menunaikan solat witir satu rakaat. Apa yang lebih penting dalam Islam ialah melakukan ibadat itu biar sedikit tetapi istiqamah yakni dibuat berterusan.
Dalam bulan Ramadan ini, menunaikan solat tarawih sudah dikira sebagai qiamullail. Rasulullah s.a.w bersabda: Sesiapa yang bangun (qiamullail) pada bulan Ramadan dengan keimanan dan pengharapan akan diampun dosanya yang terdahulu. (riwayat Bukhari dan Muslim).
Apa yang lebih penting ialah falsafah di sebalik qiamullail. Di dalamnya terkandung sifat ikhlas di mana kita beribadat seorang diri pada waktu orang lain nyenyak tidur di tilam yang empuk.
Maknanya, tidak ada unsur riak dalam kita melakukan ibadat ini.
Apakah kelebihan mengamalkan qiamullail. Adakah ia boleh menampung kekurangan pahala berpuasa?
SYAIKH ISMAIL: Orang yang mengamalkan qiamullail ini akan diangkat darjat mereka.
Ini dijelaskan menerusi firman Allah, Dan pada sebahagian malam hari bersolat tahajudlah kamu sebagai suatu ibadat tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhan mengangkat kamu ke tempat yang terpuji. (al-Isra’: 79)
Selain itu, Nabi s.a.w bersabda, Hendaklah kamu bersolat malam. Sesungguhnya ia amalan yang soleh sebelum kamu, amalan yang mendekatkan kepada Tuhanmu, penghapus kesalahan dan pencegah dosa. (riwayat Muslim)
Bagaimanapun, qiamullail ini adalah ibadat yang berbeza dan tidak boleh menampung kekurangan pahala berpuasa.
Kalau tidak mahu cacat pahala puasa, kita jangan melakukan perkara yang buruk, bercakap yang sia-sia dan menjauhkan maksiat.
Rasulullah yang maksum juga tidak meninggalkan qiamullail ini. Bagaimanakah cara untuk mendidik membiasakan diri menunaikannya?
SYAIKH ISMAIL: Rasulullah pernah ditanya oleh saidatina Aisyah r.a, mengapakah baginda berqiamullail sehingga bengkak kaki baginda kerana berdiri terlalu lama sedangkan baginda adalah maksum, baginda menjawab, apakah tidak aku menjadi hamba yang bersyukur.
Dan dalam bulan Ramadan, Nabi s.a.w bukan sahaja bangun beribadat waktu malam tetapi mengejutkan isteri dan ahli keluarganya untuk sama-sama beribadat kepada Allah.
Aisyah r.a berkata, Rasulullah s.a.w apabila masuk malam 10 terakhir Ramadan, baginda menghidupkan malam (dengan ibadat), mengejutkan keluarganya (bangun beribadat), bersungguh-sungguh (dalam beribadat) dan uzlah dari isteri-isterinya. (riwayat Bukhari dan Muslim)
Untuk membiasakan diri melakukan ibadat ini, hendaklah kita sentiasa menunaikan solat. Cuba istiqamah melakukannya selama 40 waktu atau 40 hari. Sebabnya, ulama menyebut, jika kita solat subuh selama 40 waktu berturut-turut tanpa tinggal, insya-Allah kita akan kekal menunaikannya.
Kita juga perlu sabar dalam melaksanakan ibadat. Ini amat penting terutama pada kali pertama kita melakukan qiamullail. Apabila dah biasa tidak ada masalah lagi.
Analoginya, kalau kita hendak upah atau gaji yang lebih sudah tentu kena kerja keras atau lebih masa. Demikian juga untuk mendapat ganjaran pahala besar yang dijanjikan oleh Allah kita kena berusaha melakukan qiamullail. Kita kenalah berkorban sedikit seperti mengurangkan waktu tidur.
Selain, qiamullail apakah zikir-zikir yang mudah dibaca tetapi berat timbangannya yang boleh diamalkan oleh umat Islam?
SYAIKH ISMAIL: Paling utama ialah membaca al-Quran seperti yang disebutkan tadi. Lain-lain ialah zikir seperti La ila ha illallah, subhanallah, alhamdulillah, allahu akbar.
Kita juga hendaklah membanyakkan istighfar memohon keampunan Allah.
Apa pula peluang yang perlu direbut terutama pada lailatul qadar?
SHAIKH ISMAIL: Hendaklah kita berusaha mencari lailatul qadar kerana pahala beribadat pada malam ini adalah menyamai 1,000 bulan atau 84 tahun. (al-Qadr: 3)
Ini adalah bonus yang Allah bagi kepada umat Nabi Muhammad yang rata-rata umur mereka ialah sekitar 60 ke 70 tahun berbanding umat terdahulu yang usia mereka mencecah beribu tahun.
Malam ini pula dikatakan berlaku pada malam ganjil 10 terakhir Ramadan. Ini berdasarkan hadis Rasulullah s.a.w: Carilah lailatul qadar pada malam ganjil 10 malam terakhir. (riwayat Bukhari)
Oleh itu, janganlah kita sia-siakan peluang yang Allah berikan kepada kita tahun ini kerana belum tentu kita akan bertemu Ramadan tahun depan.

IKTIKAF WANITA
Ramai yang bertanya tentang adakah boleh wanita beriktikaf di rumahnya untuk sepuluh malam terakhir ramadhan ini? adakah ia boleh mendapat pahala seperti iktikaf lelaki di masjid?
Jawapannya:
Imam Abu Hanifah & Imam Sufyan At-Thawry mengatakan wanita boleh dan sah beriktikaf di rumahnya dan mereka mendapat pahala sebagimana lelaki di masjid. bgmnpun perlu dingat, mereka perlulah menjaga tertoib dan adab iktikaf jika ingin perbuat di rumahnya.
Walau bagaimanapun, Imam As-Syafie dalam ijtihadnya, berpandangan wanita tidak boleh beriktikaf di di rumahnya. Kerana ayat al-Quran umum menyebut " dan kamu semua beriktikaf di masjid-masjid" ( al-Baqarah : 187 )
Demikian juga pandangan mazhab Hanbali dan Imam Malik. ( iaitu tiada iktikaf kecuali di masjid yang didirikan kahs untuk solat kepada Allah) . Imam Ibn Quddamah di dalam kitab al-muhghni menyebut, antara dalilnya juga adalah Nabi SAW ketika di minta oleh isteri-isterinya untuk beriktikaf di masjid, maka Nabi SAW mengizinkannya , maka jika rumahnya yang dijadikan wanita sbg tempat solatnya boleh di jadikan tempat iktikaf, maka mengapakah Nabi SAW mengizinkan mereka ke masjid, bukankah terus sahaj Nabi mengizinkan mereka beriktikaf di rumah. Malah jika, iktikaf di rumah lebih elok, sudah tentu nabi akan memaklumkannya kepada para wanita.
Selain itu, ini kerana iktikaf itu adalah ibadat qurbah (yg hampirkan diri dgn Allah), seperti Tawaf, yang memerlukan lelaki dan wanita ke kaabah untuk tujuan tawaf. Demikian juga Iktikaf. ( Al-Mughni, 4/262)
Maka pandagan yang lebih kuat adalah di masjid, manakala pandangan abu hanifah dan thawry boeh diamalkan di ketika sukar ke masjid dan tidak diganggu oleh anak-anak di rumah yang menyebabkan boleh terganggu tujuan iktikaf itu. Selain itu, syarat-syarat iktikaf juga sukar di tepati jika dibuat di rumah dalam banyak keadaan.
Dan apabila wanita beriktikaf di masjid, adalah perlu untuknya menggunakan tirai
yang lebih sebagai mengikuti cara isteri-isteri Nabi SAW dan menutup aurat mereka dengan lebih berkesan.
Iktikaf di Surau
Disepakti oleh para Ulama bahawa tempat yang paling elok beriktikaf di 3 masjid utama Islam ( masjidil Haram, Masjid Nabawi dan Masjid Al-Aqsa, di tangga seterusnya dari sudut keutamaan adalah mana-mana masjid yang didirikan solat jumaat. Imam Ibn Quddamah menyebut, ini adalah kerana berjemaah di dalamnya juga adalah lebih pahalanya. Demikian juga menurut Imam As-Syafie. Manakala berikutnya adalah semua masjid walaupun tidak didirikan Jumaat.
Bagaimanapun, kebanyakan ulama hanya mengiktiraf masjid yang didirikan solat jumaat sahaja untuk dijadikan tempat beriktikaf. Demikian juga yang disebut oleh Prof Dr. Syeikh Husam, prof Shariah dari Palestin. Wallahu 'alam.
Sekian,
ust zaharuddin abd rahman


IKTIKAF

Muslimin yang dirahmati Allah,
Marilah kita bertakwa kepada Allah Subhanahu Wataala dengan sebenar-benar takwa, dengan mengerjakan segala apa jua suruhannya dan meninggalkan segala apa jua larangannya. Dengan cara ini kita akan mencapai ketenangan, keselamatan, kebahagian di dunia dan di akhirat.
Muslimin yang berbahagia,
Setiap orang yang hidup di dunia ini mahukan ketenangan dan kesenangan. Tiada siapa pun yang mahukan hidupnya rungsing, gelisah dan menghadapi berbagai-bagai masalah. Dalam menghadapi masalah ini, umat Islam sangat beruntung dan bertuah kerana Islam sentiasa membimbing dan menunjukkan umatnya jalan selamat yang boleh menyelesaikan masalah yang dihadapi, tetapi terpulanglah kepada kita samada mahu mengikut atau sebaliknya.
Islam menyediakan banyak jalan bagi umatnya untuk mencari ketenangan jiwa yakni mengurangkan perasaan yang tidak senang yang bersarang di hati atau di jiwa individu.
Ketenangan hati bagi seseorang insan adalah anugerah Tuhan yang tidak ternilai harganya, yang sepatutnya tidak diabaikan bahkan hendaklah dijaga dan dipelihara, kerana itu pohonlah kepada Allah Subhanahu Wataala supaya dikurniakan hati yang tenang, jauh dari ketegangan.
Banyakkanlah berzikir kepada Allah Subhanahu Wataala, memuji, memohon keampunan dan keredhaannya. Itulah cara mendapatkan ketenangan. Jangan mencari ketenangan dengan perkara yang dilarang dan diharamkan oleh Allah Subhanahu Wataala seperti memakan dadah, meminum arak dan bermacam-macam lagi kemungkaran yang ditegah dan dilarang, kerana semua itu bukan jalan penyelesaian masalah tetapi sebaliknya akan mendatangkan masalah dan padah terhadap diri sendiri, keluarga dan masyarakat bahkan negara.
Salah satu cara dan penawar bagi mengubati jiwa dan hati ialah dengan banyak-banyak mengingat Allah Subhanahu Wataala sebagaimana firman Allah Subhanahu Wataala di dalam surah Ar-Ra’d ayat 28 :
Tafsirnya :
Iaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingati Allah. Ingatlah! Hanya dengan mengingati Allah lah hati menjadi tenteram.
Cara yang mudah dan ringan untuk memperolehi ketenangan ialah dengan jalan beriktikaf.
Kaum muslimin yang dirahmati Allah,
Iktikaf bererti : Diam (berhenti) dalam masjid dengan niat dan cara yang tertentu, khususnya beribadat terutama pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Manakala jika seseorang itu duduk sahaja di dalam masjid, tanpa berniat iktikaf, maka perbuatan tersebut tidaklah dikira iktikaf.
Apabila seseorang itu beriktikaf dengan tulus ikhlas kerana Allah Subhanahu Wataala dengan niat bagi mendapatkan ketenangan, Insya Allah, Allah Subhanahu Wataala akan mengurniakan ketenangan jiwa untuk menghadapi hidup ini.
Oleh itu, sebelum melangkahkan kaki ke masjid untuk beriktikaf, maka kita hendaklah mempersiapkan diri kita secara zahir dan batin dengan menumpukan perhatian sepenuhnya kepada Allah Subhanahu Wataala.
Perlulah diketahui bahawa amalan-amalan yang sangat baik untuk dilakukan semasa beriktikaf ialah sembahyang, berzikir, bertahlil iaitu mengucap ‘La ilaha illallah’, bertahmid iaitu mengucap Al-hamdulillah, bertasbih iaitu mengucap Subhanallah, berdoa, membaca Al-Quran, belajar, mengajar dan sebagainya. Itulah di antara cara bagi melatih jiwa dan fikiran untuk mengingati Allah Subhanahau Wataala.
Sidang Jumaat yang berbahagia,
Beriktikaf adalah merupakan amalan Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam khususnya di waktu bulan ramadhan, kerana beribadat ketika itu sangat tinggi nilainya dan besar ganjarannya di sisi Allah Subhanahu Wataala, lebih-lebih lagi dilakukan pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Sebagaimana hadith Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam:
Maksudnya :
Dari Aishah Radiallahu-Anha ia berkata : Bahawasanya Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam beriktikaf pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan, sehinggalah baginda wafat, kemudian para isteri baginda meneruskan amalan beriktikaf selepas kewafatannya.
Sidang Jumaat sekalian,
Iktikaf itu mempunyai banyak hikmat yang tertentu di antaranya ialah:-
Pertama :
Mendatangkan ketenangan kepada fikiran dan jiwa dari bermacam-macam kesibukan dan boleh merehatkan seluruh anggota badan dari kepenatan dan keletihan.
Kedua :
Dari segi rohani : ia akan mendorong kita supaya memikirkan kelemahan diri dan merenung tanda-tanda kebesaran Allah Subhanahu Wataala kerana dengan jalan demikian akan mendekatkan kita lagi kepada Allah Subhanahu Wataala.
Ketiga :
Iktikaf boleh mendidik diri kearah jiwa Muthma’innah ( jiwa yang tenang ) dan tidak tunduk kepada dorongan hawa nafsu, sebaliknya tunduk dan taat kepada Allah Subhanahu Wataala dengan akal yang sihat.
Keempat :
Iktikaf juga akan meningkatkan iman dan takwa kerana dengan memperbanyakkan ingat kepada Allah Subhanahu Wataala sahajalah kita akan gementar dan terasa kebesaran Allah Subhanahu Wataala.
Wahai kaum muslimin,
Sekarang kita telah berada penghujung di bulan Syaaban dan tidak lama lagi kita akan bertemu bulan Ramadhan iaitu bulan yang diwajibkan kita berpuasa. Apa yang ingin kita ingatkan sebelum menjelangnya bulan Ramadhan akan datang ini ialah apakah kita masih mempunyai qada’ puasa yang lalu yang belum dilaksanakan, jika ada, maka tunaikanlah hutang-hutang puasa itu semasa kita masih sihat dan bertenaga ini, jangan sampai ditangguh-tangguh tahun demi tahun dan akhirnya sehingga ajal menjemput kita.
Firman Allah Subhanahu Wataala dalam surah Al-Baqarah ayat 125 :
Tafsirnya :Dan kami perintahkan kepada Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail dengan berfirman: Bersihkanlah rumah ku (Kaabah dan Masjidil-haram dari segala perkara yang dilarang) untuk orang-orang yang bertawaf dan orang-orang yang beriktikaf (yang tetap tinggal padanya) dan orang-orang yang ruku’ dan sujud.





Iktikaf dan persoalannya


Ustaz Zainudin Hashim


Tazkirah Akhir Ramadan : Nabi Muhammad s.a.w merupakan insan sempurna dalam segenap tindak-tanduk, dari sebasar-besar perkara hinggalah kepada sekecil-kecil, ia tetap memberikan panduan serta contoh terbaik, baginda bukan sekadar mengajar umatnya untuk bangkit melakukan pelbagai bentuk amal ibadat, akan tetapi sebelum baginda mencadang atau mengarahkan umatnya untuk berbuat demikian, baginda terlebih dahulu membuktikannya dengan pengamalan dan tindakan positif yang boleh dijadikan contoh terbaik buat semua.
Iklan




Dalam segenap bentul amal ibadat, termasuklah dalam perkara itikaf khususnya di bulan Ramadan, tidak ketinggalan baginda mencontohkannya kepada umatnya cara, bentuk serta pendekatanitikaf yang sebenar, ia bertujuan agar umatnya tidak tersasar jauh malah terarah kepada hala tuju yang betul dan sihat.

Walaupun dosa-dosa terdahulu baginda telah diampunkan Allah SWT, namun sebagai seorang Nabi dan Rasul, tanggungjawabnya untuk memberi atau menyediakan modul terbaik kepada umat menjadi keutamaan, justeru dalam perbincangan kali ini, penulis berhajat untuk menyatakan panduan yang ditunjukkan oleh baginda Rasulullah s.a.w dalam ibadat ‘itikaf khususnya pada malam-malam terakhir Ramadan dalam bentuk yang paling mudah untuk diamalkan oleh setiap individu muslim dan muslimah.

Makna 'Itikaf

Ia bermaksud menetap pada satu tempat (terutamanya masjid) sama ada panjang atau pendek tempoh yang dilakukannya.

Hukum ‘Itikaf

Para ulama’ bersepakat bahawa ‘itikaf hukumnya adalah sunat yang tidak boleh dipaksakan orang lain melakukannya, melainkan ia menjadi hukum nazar yang mesti dilakukan oleh orang yang bernazar.

Tempoh masa untuk ber’itikaf Menurut jumhur (kebanyakan) ulama’ dari kalangan mazhab Imam Abu Hanifah, Imam as-Syafie dan Imam Ahmad bin Hanbal, tempoh masa untuk ber’itikaf yang diterima walaupun hanya sebentar, ada juga pendapat yang menyebut bahawa tempoh satu hari juga diterima sebagai amalan untuk beribadat kepada Allah SWT.

yarat untuk ber’itikaf

‘Itikaf disyaratkan perlakuannya dalam masjid yang dilakukan solat jamaah, apatah lagi masjid yang diadakan solat Jumaat.

Bagaimana dengan ‘itikaf dalam surau

Sesetengah ulama’ tidak mensyaratkan masjid yang diadakan solat Jumaat boleh untuk ber’itikaf, malah masjid atau surau yang didirikan solat jamaah juga adalah sah untuk dilakukan ‘itikaf bagi mereka yang mahu melakukannya. (Ia berdasarkan riwayat Ibnu Abbas dan Aishah yang dipegang oleh Imam Ahmad dan al-Baihaqi).

Selain itu, bagi yang ber’itikaf, mereka tidak digalakkan menziarahi orang sakit, tidak juga mengurus jenazah, tidak dibenarkan bersentuhan dengan isteri atau melakukan persetubuhan atau melakukan sebarang aktiviti yang tiada kena mengena dengan tujuan ber’itikaf. Maksud hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud (hadisnya yang ke 2473) daripada Saidatina Aishah r.a.

Bagi muslimah pula, adalah digalakkan untuk berada di rumah atau surau yang tidak diadakan solat jamaah. (Disebut dalam as-Syarh al-Mumti’)

Hukum ber’itikaf dalam sebuah bilik penjuru masjid

Jika terdapat bilik-bilik yang bersambung dengan ruang masjid dan sebagainya, ia boleh dijadikan sebahagian tempat untuk ber’itikaf lebih-lebih lagi buat muslimat. (Fatawa al-Lajnah ad-Da~imah 411/10).

Tujuan ber’itikaf di bulan Ramadan

v Amalan ber’itikaf boleh dilakukan pada bulan-bulan lain selain Ramadan, namun di bulan Ramadan adalah sangat digalakkan terutama dalam merebut kedatangan Lailatul Qadr yang lebih baik daripada seribu bulan.

Batal hukum ‘itikaf jika keluar dari masjid/surau

Apabila seorang yang sedang ber’itikaf dalam masjid, keluar tanpa sebab-sebab yang dibolehkan seperti mengambil wuduk, buang air, mandi, menguruskan makan untuk berbuka atau bersahur (jika tiada pihak yang menguruskannya), bekerja, maka terbatal tujuan ‘itikafnya pada hari itu. (maksud hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim daripada Aishah).

Antara ‘itikaf dan belajar – mana lebih diutamakan?

Jika terdapat keinginan para pelajar di sebuah universiti yang tinggal di asrama berdekatan dengan masjid, maka belajar itu adalah lebi diutamakan daripada ber’itikaf, kerana belajar adalah wajib sementara ‘itikaf pula hukumnya sunnat. (www.islam-qa.com) bab mengenai ‘itikaf.

Apakah amalan tertentu untuk dilakukan ketika ber’itikaf?

Petunjuk Nabi Muhammad s.a.w dalam urusan ‘itikaf amat mudah, seluruh waktunya dihabiskan dengan berzikir kepada Allah SWT, zikir yang diertikan dengan mengingati Allah boleh dilakukan dalam pelbagai bentuk, ia termasuk membaca dan bertadarus al-Quran (berdiskusi, menyelidiki), bersolat sunat – sila lihat Zadul Ma’ad oleh Ibnu Qaiyim al-Jauziyyah (2/90).

Ahli Jawatankuasa masjid atau surau ketika ber’itikaf yang mengadakan mesyuarat khas bagi merangka dan membincangkan aktiviti bertujuan meningkatkan prestasi iman dan takwa ahli kariah juga boleh dianggap ibadat kerana mengajak manusia untuk mengingati Allah.

Jika seorang yang bekerja yang terpaksa membawa balik bahan tugasan pejabatnya memandangkan ketibaan awal Syawal semakin hampir untuk disiapkan, tidak berkesempatan untuk ber’itikaf atau melakukan solat-solat sunat walaupun di rumah, hasratnya tinggi untuk buat, tetapi dihalangi dengan kesibukan tugasan pejabat yang mesti diserahkan keesokan hari, apabila dia tahu bahawa bekerja itu adalah ibadat, maka apa yang dilakukannya juga kerana ibadat, maka segala tindakannya itu adalah diterima sebagai salah satu tuntutan ibadat, namun dia perlu berusaha untuk cuba melakukannya pada malam-malam terakhir yang masih berbaki.

Remaja perlu minta izin kedua ibu bapa untuk ber’itikaf

Mungkin terdapat segelintir remaja yang baik budi pekertinya yang masih di bawah penjagaan kedua ibu bapa mereka berhasrat untuk ber’itikaf di masjid bagi meningkatkan hubungan dengan Allah SWT, perlu meminta izin daripada mereka berdua, kerana patuh kepada mereka berdua adalah wajib sedangkan ‘itikaf adalah sunnat, ia bertujuan bagi memastikan agar ibadat ‘itikaf yang dilakukannya mengikut peraturan yang telah digariskan oleh hukum Syara’.

Pahala ber’itikaf

Sabda Rasulullah seperti yang difirmankan Allah dalam satu hadis Qudsi yang bermaksud : Apa sahaja yang dilakukan oleh hamba-Ku bertujuan untuk mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnat hingga Aku menyukainya, apabila Aku menyukainya maka Akulah yang akan menjadi pendengaran apa yang didengarnya, menjadi penglihatan apa yang dilihatnya, tangannya bertindak sesuatu apa yang sepatutnya dilakukan, kakinya melangkah pada apa yang sepatutnya dilakukan, jika dia meminta kepada-Ku, pasti akan Aku perkenankan dan jika dia minta perlindungan daripada-Ku pasti Aku akan melindunginya. (Hadis Sohih riwayat Imam Bukhari 6502).

Rasulullah s.a.w ada menegaskan dalam satu hadis yang bermaksud : Sesiapa yang ber’itikaf dengan penuh keimanan dan mengharapkan keredaan Allah SWT, sesungguhnya dosa-dosanya yang telah lalu diampunkan oleh Allah. (Hadis riwayat ad-Dailami daripada Aishah r.a).

Peranan kita pada malam-malam terakhir Ramadan

1- Perlu kita ketahui, bahawa Allah SWT mahu menguji iman kita dengan pelaksanaan ibadat puasa selama sebulan Ramadan, bagi yang benar beriman, akan melakukan ibadat puasa dengan sungguh-sungguh adapun bagi yang berdusta, tidak sanggup untuk melakukannya dengan ikhlas kepada-Nya.

2- Kita berpuasa dengan niat untuk menyahut arahan Allah dan pahala-Nya.

3- Tidak menghabiskan puasa sehari suntuk dengan banyak tidur.

4- Kita perlu memperbaharui taubat kepada Allah.

5- Kita perlu memperbanyakkan doa, istighfar kepada Allah khususnya di bulan Ramadan, kerana ia menjanjikan kepada kita rahmat dan keampunan Allah serta pelepasan daripada api neraka.

6- Ketika berpuasa, kita perlu menahan pancaindera daripada terjebak pada perkara-perkara yang diharamkan Allah. -



Zakat Fitrah
Zakat Fitrah
Zakat ini di fardhukan pada tahun ke 2 hijrah iaitu tahun di fardhukan puasa. Di fardhukan ke atas setiap individu muslim lelaki atau perempuan yang berkemampuan dengan syarat-syarat yang telah ditetapkan.
Firman Allah Ta’ala :
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى
Maksudnya : Sesungguhnya berjayalah orang yang setelah menerima peringatan itu berusaha membersihkan dirinya (dengan taat dan amal yang soleh). (Surah Al-A’la Ayat 14)

Zakat fitrah atau nama lainnya “zakat an-nafs” iaitu zakat badan maksudnya zakat untuk menyucikan jiwa dengan mengeluarkan makanan asasi daripada jenis yang mengenyangkan dengan kadar satu gantang Baghdad bersamaan 2.70kg beras atau senilai dengannya diberi kepada golongan tertentu dengan syarat-syarat tertentu.
Syarat Wajib Zakat Fitrah
a) Mempunyai lebihan makanan atau hartanya untuk diri & keluarga pada malam dan siang hariraya.
b) Hidup pada akhir Ramadhan & awal Syawal
c) Anak yang lahir sebelum matahari terbenam pada akhir bulan Ramadhan dan hidup hingga selepasnya.
d) Memeluk Islam sebelum terbenam matahari pada akhir bulan Ramadhan
e) Seseorang yang meninggal selepas terbenam matahari akhir Ramadhan.
Waktu Mengeluarkan Zakat Fitrah
Waktu Afdhal/Sunat : Sebelum Sembahyang Sunat Hari Raya
Waktu Wajib : Selepas terbenam matahari malam Aidilfitri sehingga terbit matahari esoknya
Waktu Harus : Sejak Awal Ramadhan
Waktu Makruh : Selepas Sembahyang Sunat Hari raya sehingga terbenam matahari 1 Syawal
Waktu Haram : Selepas terbenam matahari 1 Syawal
Orang Yang Berhak Menerima Zakat Fitrah
Firman Allah Ta’ala :
إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ
وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَاِبْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ
Maksudnya : Sesungguhnya sedekah-sedekah (zakat) itu hanyalah untuk orang – orang fakir dan orang-orang miskin dan a’mil-a’mil yang mengurusnya dan orang-orang mualaf yang dijinakkan hatinya dan untuk hamba-hamba yang hendak memerdekakan dirinya dan orang-orang yang berhutang dan untuk (dibelanjakan pada) jalan Allah dan orang-orang musafir (yang keputusan) dalam perjalanan. (ketetapan hukum yang demikian itu ialah) sebagai satu ketetapan (yang datangnya) dari Allah dan (ingatlah) Allah amat mengetahui lagi amat bijaksana.(Surah At-Taubah Ayat 60)
Ada Lapan Asnaf :
1) Orang Fakir :

Ialah orang yang tidak ada harta benda untuk keperluan hidupnya sehari-hari, tidak sanggup bekerja, tak mampu berusaha dan malu untuk meminta-minta.
2) Orang Miskin :
Ialah orang yang boleh bekerja dan berusaha tetapi tidak mencukupi keperluan hidupnya sehari-hari.
3) ‘Amil (pemungut zakat) :
Orang yang dilantik atau diberi kuasa oleh Majlis Agama Islam Negeri untuk memungut zakat.
4) Muallaf :
Orang yang baru memeluk Agama Islam.
5) Hamba :
Terbahagi kepada tiga :
1) Hamba Qin (hamba semata)
2) Hamba Mudabbar (hamba yang kemerdekaannya bergantung kepada mati tuannya).
3) Hamba Mukattab (kemerdekaan dirinya bergantung kepada syarat-syarat yang diberikan oleh tuannya).
Sebagaimana keterangan Imam Syafie, hamba mukattablah yang layak menerima zakat.

6) Orang Yang Berhutang Banyak :
Iaitu tanggungan hutang untuk kemaslahatan diri dan keluarganya ataupun kemaslahatan umat Islam bila hutangnya itu telah melebihi dari harta kekayaannya.
7) Sabilillah :
Orang yang berjuang di jalan Allah

8) Ibnu Sabil
Orang yang dalam perjalanan jauh untuk menyempurnakan tuntutan Agama Islam kemudian kehabisan belanja atau biayanya

No comments:

Post a Comment

Post a Comment